Minggu, 18 Desember 2011

luweeeee . ,

adalah kata-kata sakral yang kadang memang suka kelepasan saat perut keroncongan,
kadang manusia memang seenanknya saja melantunkan nada-nada pengeluhan, tanpa menyadari bahwa keadaan diluar sana masih banyak yang LEBIH merana daripada yang sedang dialami, dan mereka tidak mengeluh karena memang sudah terbiasa,
contohnya saja di afrika, disana kelaparan bukan menjadi trend tapi memang kondisi yang mengharuskan mereka para penduduk afrika untuk menanggung suatu beban yang biasa disebut dengan istilah l.a.p.a.r
mereka mungkin lelah jika setiap detik harus menggumamkan kalimat-kalimat kelaparan, hingga mati berbusa pun tidak akan bisa mengubah keadaan mereka yang sedang kelaparan.
Berbeda kasus jika anda mungkin berada di wilayah Solo, ketika mengagungkan kata l.a.p.a.r mungkin akan dianggap "saru" oleh sebagian orang. Dikiranya keluarganya gag bisa ngasih makan kalik yaa. ya karena memang disini makanan berlimpah ruah, bahkan menjadi pengemis pun disini bisa makan lauk daging.

Kamis, 08 Desember 2011

sarana mencapai kebahagiaan

dalam ilmu jawa, konsep kebahagiaan bisa diraih melalui MARGA RAHAYU (jalan keselamatan), yang meliputi :
a. Paugeran (aturan/undang-undang) : memeahami dan mengahayati makna dan rumusan hukum tuhan.
b. Panembah : berbakti kepada tuhan.
c. Budi Darma : mewujudkan belas kasih kepada sesama.
d. ngendhaleni : mengikat hawa nafsu yang cenderung kepada kejahatan agar tidak menggangu pelaksanaan kewajiban.
e. Budi Luhur : sebagai bekal untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki.

Rabu, 07 Desember 2011

serat witaradya III

I.
kerajaan pengging pada waktu itu diprintaholeh raja Pancadriya, putra Sri Citrasoma, cucu Prabu Ajipamasa. pancadriya mmepunyai empat orang anak, yaitu Artadriya, Anglingdriya, Darmandriya dan Sumandriya. Patihnya bernama Sukarta. Pada suatu hari penghadapan, Raja menyatakan keinginannya untuk meninjau resi. Pancadnyana atau Pancadnyata yang bertapa di Madyapanjang. kebetulan pada waktu itu resi Pancadnyana sedang sakit.
II.
Kedatangan Sri Pancadriya seolah-olah membawa obat bagi sang resi, yang sebenarnya sangat merasa kesepian sejak istrinya meninggal. Para putra raja yang semuanya menjadi menantu sang resi, yang juga turut menjenguk ke pertapaan itulah yang seolah-olah menjadi obat. Akhirnya putra tertua raja beserta istrinya, ialah Artandriya dan Dewi Sasma tinggal di pertapaan. Seluruh kepandaian Resi Pancadnyata ditumpahkan kepada Artandriya. Selain itu dipesa pula, bahwa ,eski ia merupakan putra tertua, akan tetapi jangan sekali-kali ingin menggantikan takhta, karena diharapkan dapat menggantikan kedudukan resi Pancadnyana di Madyapanjang, sesuai dengan tanda-tanda suratan dewata kepadanya.
III.
Setelah selesai memberi pesan, Resi pancadnyana lalu muksa. Dalam pada itu selama seratus hari kerajaan Pengging ditimpa huru-hara alam. Setelah huru-hara itu padam, bertiuplah angin membawa bau harum semerbak. Tak lama sesudah itu datanglah utusan dari Madyapanjang, mengavarkan muksanya sang resi, serta segala pesannya kepada Artandriya. Sri Pancadriya dan seluruh putra dan sentana segera berangkat ke Madyapanjang.
IV.
Artandruya diresmikan menjadi resi di madyapanjang dengan gelar Resi Dewabrata. Muksanya Resi pancadnyana sangat menyedihkan Sri pancadriya, sehingga ia jatuh sakit, dan tiada obat dapat menyembuhkannya. Resi Dewabrata datang menjenguk ayahnya, dan ia telah melihat suatu tanda, bahwa ayahnya sudah dekat ke akhir hayatnya. Di tengah-tengah kesedihan datanglah SangHyang Narada membritakan kabar gembira bahwa yang muksa sudah mendapatkan tempat yang baik. Narada juga menyampaikan perintah hyang otipati kepada Resi Dewabrata untuk memperingatkan Datusakti di negri galuh, yang telah mengaku sebagai raja dewata. Datusakti memang sangat saktikarena bertapa sejak kecil, sehinga mendapat anugrah dari raja dewata sanghyang Girinata. Sesudah itu ia merasa sama kuasanya dengan yang memberinya anugrah, bahkan menggelari dirinya sebagai sanghyang girinata pula. Sepeninggal sangHyang Narada, segera dikirim utusan ke Mlawapati untuk memberitahukan meninggalnya Sri pancadriya. Jenazah segera disucikan dan kemudian dibakar diatas pancaka.
V.
Raja Mlawapati sri gandakusuma sudah tidak sempat menyaksikan pembakaran jenazah Sri pancadriya. Kemudian dibicarakan rencana penobatan raja baru. Semua pihak memilih resi dewabrata. Akan tetapi yang ditunjuk tidak bersedia, bila tidak ada perkenan dari dewata. Sementara itu dewi gandawati, permaisuri Sri pancadriya jatuh sakit, dan akhirnya menyusul ke alam baka. Sekali lagi Sri gandakusua membujuk Dewabrata agar bersedia dinobatkan, namun dewabrata tetap pada pendiriannya, bahwa ia memilh menjadi wiku di madyapanjang.
Dalam pada itu di negeri galuh, kini datusakti mengangkat dan memberi kedudukan mirip dewa-dewa kepada anak dan semua saudara-saudaranya, seraya dipaparkan juga asal-usul mereka sejak di india sampai akhirnyamerajalela di tanah jawa menaklukkan rakyat galuh dan sekitarnya. di kaki gunung yang dikatakan sebagai Suralaya, orang-orang datang memuja dan memohon. Untuk mengurus para pemuja dan pmohon, ditugaskanlah Datuboma, yang sudah diangkat sebagai Batara Narada.
VI.
Kembali ke Pengging, resi Dewabrata tetap berkeras tidak mau dinobatkan menjadi raja. Adiknya, Raden Aglingdriya juga menolak. Raja-raja akhrnya minta diri hendak kembali kenegerinya msing-masing namun dicegah oleh resi Dewabrata, dengan alasan untuk bersama-sama menuggu petunuk dewata. kemudian datanglah batara narada mnyampaikan perintah Hyang guru. yang ditetapkan menggantikan takhta adalah raden Suputra bergelar Sri Anglingdriya, atau Sri Dewakusuma. Adiknya, raden Sucitra diangkat menjadi raja di salembi bergelar sri dipanata., sedangkan sumandriya diangkat mejadi raja Sudimara. Resi Dewabrata kemudian diwejang oleh Sang Hyang Narada segala macam kesaktian untuk menghadapi datusakti di Galuh. Selain dianugrahi kesaktian juga mendapat anugrah pusaka sakti Cundamani, yang pasti akan mampu menghancurkan kesaktian Datusakti. Berangkatnya ke Galuh ditentukan pada masa citra, karena masa itu merupakan masa naasnya datusakti. Sepeninggal batara Narada, Sri Gandakusuma segera menyelenggarakan upacara penobatan. Anglindriya menjadi Sri Dewakusuma, Darmandriya menjadi Sri Dipanata, dan Sumandriya menjadi Dri mandrakusuma atau Sri Endranata. Beberapa hari setelah upacara penobatan Resi Dewabrata berangkat ke Galuh.
VII.
putra Sri Watugunung yang sudah menjadi Dewa, yakni sangHyang sindola, pada suatu hari menghina batara Wisu. Sindula mengejek, tatkala wisnu mendapat tugas menjaga ketetntraman dunia, sebelum dunia tentram wisnu sudah kembali ke kahyangannya. Padahal pada waktu itu di dunia masih ada seorang raja yang suka makan daging manusia. Sungguh wisnu itu tidak tahu malu. Wisnu tentu saja sakit hati. ia lalu memohon dan memuja, mudah-mudahan Sindula kena klutk diturunkan ke dunia, dan akan mendapat malu. Salah seorang anaknya akan menjadi pemakan daging manusia. permohonan Wisnu terkabul. Sindul aterkena penyakit laknat. Ia dan sekeluarga harus turun ke dunia Istrinya, Batari Ayu, dan keempat anaknya, Retna Dewati, Dewatacengkar, Dewatagung, dan Dewatapa, semua turun, dan bertempat tinggal di sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa, yakni pulau pawinihan.
Tersebutlah perjalanan Resi Dewabrata, sesudah tiga bulan sampailah sudah dekat gunung kahyangan Datusakti. Psukan ditinggalkan, dan berjalanlah Resi Dewabrata seorang diri, lalu bertemu dengan Datumaharya, dan menyatakan keinginannya untuk menghadap Datusakti. Mengenai maksutnya, ia baru akan menyarakan setelah diterima kelak. Datusakti yang mengaku sebagi hyang Guru bersedia menerimanya, dan kemudian Resi Dewabarata menyatakan maksudnya hendak menjadi siswanya. Namun ketika disuruh menyembah, ia tidak mau sebelum menyaksika kesaktian calon gurunya. Lalu Datusakti mengeluarkan kesaktiannya berupa huru-hara alam. Kesaktian Datusakti dapat ditindih oleh Resi Dewabrata berkat senjata Cundamani. Sorga ciptaan Datusakti berantakan, dan akhirnya jatuh di dasar samodra. Anak-anaknya jatuh terpisah-pisah tak karuan tempatnya. Yang tersisa hanyalah indraloka. Itupun oleh dewa dibuat samar, sehingga tidak setiap orang dapat melihatnya.
VIII.
Sorgaloka buatan Datusakti sudah kembali menjdai hutan belantara. Resi Dewabrata kembali ke pasukannya, dan kemudian menerima anugrah Hyang Guru lewat Narada beerupa kewaskitan dan ketepatan uacapan-ucapannya. Rombongan lalu kembali ke begeri pengging. Dalam pada waktu itu Sri Dewakusuma memnaggil maharesi Dityakesawa,yang besar jasanya kepada sri baginda sewaktu muda, yakni dalam mempertemukannya dengan dewi soma, yang kini menjadi permaisuri Sri Dewakusuma. Maharesi Dityakesawa dinobatkan menjadi raja di Madyasukma dengan gelar Prabu Kesawa, memerintah manusia dan rakasa.
IX.
Negri pengging berdukacita atas meningglanya patih sukarta. Anakanya, Kartaparma diangkat mnggantikan ayahnya. Menyusul datangnya berita duka dari mlawapati, Raden Gandamana dinobatkan dengan gelar Sri jayakusuma. Sedangkan yang diangkat menjadi patih ialah adiknya, bernama jayapuspita.
ketika terjadi prahara yang diciptakan resi dewabrata di negri galuh dulu, sanak saudara datusakti terlmpar bertebaran. Datubagawan jatuh di ujungkoldan, suami ken atmasuci, yakni begawan sadana jatuh di negri atasnagin. Ken atmasuci sendiri bersama seorang anaknya serta datubramara dan rara putih jatuh di pawinihan. Datuboma kembali ke negri leluhurnya di kunigan, akan tetapi ternyata sudah dikuasai oleh orang lain. Ia lalu berpindah-pindah, dari kuningan ke tanah Undakan, lalu ke Selakembang, dan akhirnya menetap di Bojonglowang, berganti nama menjadi Resi Anjrahasri.
Prabu kesawa di madyasukma mangkat, digantikan oleh putra sulung, Raden prabangkara. peristiwa ini hampir bersamaan waktunya dengan meninggalnya permaisuri pengging dewi soma setelah melahirkan seorang anak perempuan, yang diberi nama Dewi Rarasati.
X.
Untuk menghibur dirinya, Sti Dewakusuma memanggil kedua diknya, yakni raja salembi dan sudimara beserta para permaisurinya. Kedatangannya diharap dapat menghibur, akan tetapi sri dipanata beserta permaisurinya selalu tampak sedih. Ternyata putra sulung salembi, Raden Darmamaya pergi meninggalkan istana di waktu malam, tanpa seorangpun mengetahuinya.
Tersebutlah di pulau pawinihan, rara putih dan atmasuci meninggal, dan berubah menjadi jin di laut utara. Datubramara dan kedua anak serta kemenakannya menghadap sang Hyang Sindula. Ia menceritakan kerajaan galuh, sehingga sindula tertarik untuk melihatnya. Seluruh keluarganya serta keluarga datubramara diajak ke galuh. Saat itu asalah tiga puluh tahun setelah kehancuranDatusakti. Kerajaan sorga galuh dapat ditemukan dan dibangun kembali oleh sanghyang sindula, yang akhirnya menjadi raja di galuh, dan kemudian menaklukkan daerah-daerah sekitarnya. tak lama antaranya ketiga putra sindula dikawinkan. Hal ini meimbulkan kesedihan putrinya, Retna Dewati, yang kemudian pergi meninggalkan istana, dan bertapa di sebuah pulauy. Retna Dewati akhirnya menjadi ratu siluman di nusa tembini.
XI.
kerajaan galuh diserang oleh pasukan astina, yang dipimpin langsung oleh rajanya, Sri heramaya. Mula-mula pasukan galuh terdesak. Akan tetapi akhirnya pasukan astina kalah setelah sang hyang sindula terjun langsung ke peperangan. Bahkan sri heramaya hancur luluh laksana tepung terkna kesaktian sindula. Sisa pasukan astina lapor ke kerajaan madyasukma, yang pada waktu itu diperintah oleh prabu prabangkara. Bermaksud menyerang galuh, membawa pasukan raksasa dan mausia. kedua belah pihak sudah berperang, dan sudah banyak pula perwira yang tewas. Raja Prabangkara juga tewas. Adiknya yang bernama prabasena menyerah, dan minta diampuni oleh raja sindula.
XII.
Raja prabasena pergi ke negri tegalkoripan meninjau adiknya dan sekaligus membujuk agar mau takluk ke negri galuh. Akan tetapi adiknya, yakni raja Wesudarya tidak mau menuruti kehendak kakaknya, karena merasa mempunyai junjungan yang patut dihormati, yakni raja pengging. Sepeninggal kakaknya, raja Wesudarya segera bersiap-siap hendak pergi ke negri adiknya, di Tegalkepanasan, ajakan kakaknya untuk takluk ke negri galuh segera diperbincangkan. Jika raja Wesudarya dari tegalkoripan ada kecenderungan untuk mempertimbangkanajakn kakaknya, tidak demikian halnya dengan raja wasudarya dari tegalkepanasan. Ia dengan tegas ingi tetap mengabdi ke pengging, dan berniat menghancurkan kerajaan galuh. kesepakatan antra raja kakak beradik. Wesudarya dan wasudarya ialah, akan melapor kepada raja jayakusuma di mlawapati. Raja jayakusuma memperkuat usul raja wasudarya. galuh harus diserang ! wesudarya dan wasudarya segera kembali ke negrinya masing-masing untuk mempersiapkan bala tentaranya.
XIV.
peperangan antara pasukan galuh dengan pasukan gabungan tegalkoripan tegalkepanasan berlangsung berhari-hari lamanya, dan hanya berhenti jika malam tiba. kedua belah pihak sudah kehilanggan banyak prajurit dan perwira. Akan tetapi kerusakan pasukan gabungan lebih parah.
patih malawapati gugur, disusul raja tegalkoripan, dan lama antaranya guur pula raja tegalkepanasan, terkena panah putra galuh, dewatavengkar, yang kemudian juga menewaskan tiga orang putra raja, malawapati, koripan dan kepanasan.